SALAH KAPRAH PENYEBUTAN KAMBING PE KELAS PERAH (Tinjauan Kritis Memilih Kambing Perah Jenis Peranakan Etawa (PE) Kaligesing)

26 08 2012

Penulis: Arief “Kandang Bambu”

A. Pendahuluan

Salam jumpa para pembaca Kandang Bambu Weblog sekalian, kali ini penulis mencoba untuk berbagi dan berdiskusi mengenai bagaimana memilih kambing perah jenis PE Kaligesing yang baik. Penulis tertarik mengangkat tema ini dikarenakan marak beredar informasi yang salah tentang identifikasi kambing peranakan etawa (PE) kelas perah. Hal ini perlu diluruskan dalam rangka upaya mengembalikan kambing PE menjadi salah satu kambing unggulan bangsa Indonesia.

B. Salah Paham Tentang Kambing PE Kelas Perah.

Awal mula kesalahan mengidentifikasi kambing PE kelas perah adalah salah tafsir mengenai grading kambing PE khususnya ras kaligesing. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa dilakukan klasifikasi kambing PE berdasarkan grade dalam upaya membatasi perdagangan bibit unggul kambing PE untuk dijual ke luar negeri. Klasifikasi dilakukan menurut abjad, Kambing PE kelas A, B, C hingga D, disesuaikan berdasarkan kualitas genetik kemurnian ras melalui identifikasi ciri fisik.

Kelas A diperuntukan bagi kambing PE ras terbaik, kelas B lebih rendah dan seterusnya hingga kelas D sebagai jenis dengan kemurnian ras paling rendah. Kesalahan mendasar adalah mengelompokan kambing PE untuk perah pada kelas C bahkan D. Hal ini seakan menjadi lumrah beredar dalam proses perdagangan kambing kususnya jenis peranakan etawa ras Kaligesing. Banyak kawan peternak terutama pedagang kambing PE, menawarkan kambing PE kelas perah dengan harga “murah meriah” yang jauh dibawah harga kelas kontes seni. Benar saja, fakta lapangan membuktikan kambing PE kelas perah “murah meriah” yang ditawarkan tersebut adalah gade C bahkan D.

Hal tersebut diatas sangat menyesatkan terutama bagi peternak pemula yang memiliki tujuan berproduksi susu menggunakan jenis PE ras Kaligesing. Penulis menyebut kambing PE grade C dan D tersebut sebagai kambing PE culling atau afkir, yang hampir tidak mungkin untuk dimanfaatkan sebagai ternak perah karena tidak masuk klasifikasi kambing perah ideal.

C. Ciri-ciri Kambing PE Kelas Perah

Memilih kambing perah jenis peranakan etawa (PE) yang baik, harus memperhatikan karakteristik dasar ciri kambing PE. Beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan memilih kambing perah jenis PE adalah sebagai berikut:

Pemilihan tampilan fisik

Pilihlah kambing PE betina dengan usia produktif yaitu 1,5-2 tahun atau gigi telah tanggal (poel) 1-2 pasang. Memiliki tinggi ideal diatas 70 cm, dengan panjang badan proporsional serta proporsi badan mencirikan ternak perah (menyerupai segi tiga). Pastikan kambing telah laktasi (pernah beranak) agar mudah dalam menyeleksi tampilan dan kondisi ambing. Bentuk kepala khas berbentuk agak cembung dengan telinga melipat (beberapa kasus terdapat kambing PE dengan bentuk telinga tidak melipat sempurna). Kambing PE ras Kaligesing memiliki kombinasi warna hitam-putih dan coklat-putih. Warna bukan patokan kualitas kambing perah dikatakan unggul atau tidak. Salah satu ciri khas kambing PE Kaligesing adalah memiliki bulu paha belakang yang lebat (rewos). Agar lebih jelas bisa dilihat contoh kambing PE betina kelas perah adalah sebagai berikut:

Memilih bentuk ambing kambing perah PE yang baik

Ambing merupakan faktor sangat penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis kambing perah. Bentuk ideal ambing kambing perah yang baik adalah berbentuk bulat (seperti bola) dan menempel kuat pada bagian perut bawah, selanjutnya diikuti oleh bentuk putting seimbang dengan jumlah 2 buah bersih (tidak bercabang). Lebih jelas bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:

Disarankan untuk tidak memilih jenis ambing berbentuk botol (panjang menggantung), karena kurang baik. Agar lebih jelas, bentuk ambing yang tidak baik adalah sebagai berikut:

Rataan produksi susu kambing betina PE yang baik

Rataan produksi adalah jumlah total produksi yang dihasilkan seekor kambing betina yang sedang laktasi, dalam satu periode siklus (4-5 bulan). Kambing perah jenis PE idealnya dapat berproduksi susu dengan jumlah rataan mendekati 1 liter/ekor/hari. Jika rataan produksi dibawah 700 ml/ekor/hari, bisa dikatakan kambing jenis PE tersebut kurang baik untuk dijadikan kelas perah.

D. Kesimpulan

Dari paparan diatas, diharapkan tidak ada lagi salah identifikasi tentang kambing jenis peranakana etawa (PE) ras kaligesing kelas perah. Kambing perah unggul pasti dihasilkan dari mutu genetic yang baik dari tiap ras. Kambing PE kaligesing jenis perah yang baik pasti dihasilkan dari keturunan kambing-kambing unggulan grade A atau minimal B, bukan dari kambing afkir grade C atau D.

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak pembaca sekalian; “lalu apa bedanya kambing PE kelas kontes dengan kelas perah?” Jawabannya sederhana, kambing PE kelas kontes (seni) dengan kambing PE kelas perah hampir tidak berbeda kualitasnya,hanya ungkin sedikit beda selisih panjang telinga, tingkat kecembunga kepala dan warna. Bahkan penulis berani berpendapat bahwa kambing PE betina “kelas perah” adalah kambing betina terbaik pada jenisnya.  Jangan terkecoh dengan harga yang murah, tetapi pastikan anda membeli kambing PE betina kualitas terbaik jika ingin memfungsikannya sebagai ternak perah. Semoga bermanfaat, salam kandang bambu:)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: