Fenomena “salah fungsi” potensi Kambing PE

2 03 2009

Sebagaimana telah jamak diketahui, kambing PE telah dikembangkan di Indonesia sejak sekitar tahun 1930-an. Peranakan Etawa merupakan jenis unggul hasil persilangan kambing jenis Etawa (jamnapari/jamunapari) asli India, dengan kambing lokal tanah air. Kecamatan Kaligesing – kabupaten Purworejo diduga sebagai daerah awal persilangan kambing etawa denga kambing lokal Indonesia. Tidak mengherankan jika Kaligesing menjadi sentra kambing PE nasional.

Kambing PE, seperti juga kambing etawa, merupakan jenis kambing dwiguna. Tampilan fisik tinggi besar dengan kapasitas produksi susu tertinggi dikelasnya menjadikan kambing PE sangat diminati. Bukan hanya itu, keindahan fisik dengan kombinasi warna bulu menarik menjadikan kambing PE sering dipertandingkan keindahannya. Sebagaimana di negeri asalnya India, kambing Etawa juga merupakan kambing yang sering dikonteskan. Namun sangat kami sayangkan, fenomena kontes (pertandingan) kambing PE sepertinya lebih digemari daripada memfungsikannya sebagai kambing perah. Fenomena maraknya kontes kambing PE belakangan ini saya tengarai sebagai penyebab fenomena “salah fungsi” potensi kambing PE. Beberapa hal menurut pandangan saya menyimpang dari pemanfaatan potensi kambing PE adalah sebagai berikut:

Pertama, seringnya diadakan kontes kambing PE memiliki sisi positif dan juga negatif. Positifnya mampu merangsang dan mempertahankan semangat para peternak kambing untuk senantiasa mengembangkan kambing jenis ini. Sisi negatifnya adalah harga kambing PE menjadi terlalu tinggi dan tidak rasional untuk diternakkan sebagaimana fungsi utamanya. Saya dengar dengan jelas keluhan salah seorang peternak penghasil susu kambing, ketika saya tanyakan “mengapa sebagian besar ternak bapak adalah jenis sanen dan benggala?” (dari sekitar 200 ekor lebih kambing perahnya, bapak tersebut memiliki kambing jenis PE hanya dalam hitungan jari). Bapak peternak tersebut menjawab dengan mengerenyutkan dahi, “ tidak terjangkau oleh saya untuk menambah lagi indukan PE siap perah sekarang ini, harganya terlalu mahal mas”. Bisa anda bayangkan, seorang peternak besar (pemilik lebih dari 200 ekor kambing perah) mengeluh tidak mampu untuk membeli indukan PE siap perah, dan lebih memilih memperbanyak jenis lain yang lebih terjangkau harganya. Kontes-kontes ini menurut saya dapat dijadikan ajang permainan oleh kelompok tertentu untuk memperkaya diri. Pembaca pasti mengerti maksud saya, apalagi “kasus” bunga Anturium dan sejenisnya belum lama berlalu.

Kedua, salah kaprah kepala hitam. Memang benar, sebagian besar kambing PE ras Kaligesing yang digemari, memiliki kombinasi warna hitam pada kepala hingga leher dan putih pada badan. Walau begitu warna kombinasi hitam-putih bukanlah satu-satunya warna kambing PE, masih ada warna kombinasi lainnya yang populsinya juga cukup banyak yaitu kepala coklat (cenderung coklat susu) dengan warna putih pada badannya. Menentukan ciri kambing PE berkualitas bukan semata dari kombinasi warna, warna hanya sebagian kecil dari ciri khasnya. Secara umum ciri khas kambing PE mengikuti ciri kambing Etawa. Dairy Goat Jurnal dalam sebuah artikelnya tentang anatomi kambing Jamnapari (Etawa) menyebutkan ciri-cirinya sebagai berikut:

Warna : Cenderung Putih, kombinasi warna kepala hitam dan coklat.
Bulu : Pendek, kecuali pada bagian paha kaki depan dan belakang lebat panjang.
Kepala : Cembung pada bagian tulang hidung (arched roman nose) dan rahang bawah lebih panjang (nyakil). Telinga panjang melipat(25-30cm), leher panjang dengan otot kuat.
Ekor : Pendek dengan bentuk melengkung ke depan (typically curved upward).
Badan : Tinggi betina dewasa mencapai 85cm dengan bobot 70-80kg, jantan bisa mencapai 115cm dengan bobot lebih dari 100kg.

Keterangan di atas dapat digunakan sebagai patokan umum memilih kambing PE. Saya sering miris mengetahui fakta lapangan tentang salah kaprah kepala hitam ini. Beberapa kali saya ditawari peternak dan penjual untuk membeli kambing PE yang menurut mereka berkualitas baik dengan embel-embel kepala hitam plus, asli Kaligesing. Setelah didatangi, ternyata kualitas kambing mereka tidak seperti yang saya bayangkan. Memang kambing mereka berwarna hitam di kepala dengan kombinasi badan putih, tetapi memiliki kuping tidak melipat dengan bentuk kepala mirip kambing jawa (kacang). Mungkin saja kambing seperti itu memiliki darah (gen) keturunan kambing PE, tetapi menurut saya sudah rusak tercampur hasil keturunan kambing lain dengan kualitas rendah. Anehnya, banyak dari mereka lebih senang memiliki kambing kepala hitam jenis itu daripada kambing PE kualitas bagus tapi berkepala coklat.

Ketiga, peternak mulai mengikuti pola breeding para penghobi. Saya cermati hal ini kurang bagus dan cenderung merusak fungsi utama kambing PE. Dahulu pemerintah mencoba mengembangkan kambing ini untuk meningkatkan kesejahteraan peternak melalui kambing varietas unggul penghasil susu dan daging. Faktanya, sekarang kambing PE lebih dikembangkan kearah komoditas lomba (kontes). Seringnya even kontes kambing PE yang menurut saya lebih banyak diikuti para penghobi, mengakibatkan harga kambing jenis ini melambung tinggi hingga puluhan juta rupiah per-ekor. Harga tersebut menjadi tidak terjangkau oleh para peternak biasa, hanya akan terbeli oleh segelintir penghobi yang memiliki kemampuan finansial. Lalu, bagaimana nasib masa depan para peternak yang benar-benar memfungsikan kambing PE untuk di perah dan diambil dagingnya?? Mereka menggantungkan hidup dari beternak, mampukah mereka membeli dengan harga hingga puluhan juta rupiah per-ekor?? Mungkinkah fenomena kontes kambing PE saat ini adalah permainan sekelompok orang, yang ahirnya akan hancur seperti kasus bunga Anthurium??
Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak terjadi, mari kita semua khususnya peternak, merenung dan lebih realistis menyikapi fenomena “salah fungsi” kambing PE ini. Salam “Kandang Bambu”:).


Aksi

Information

25 responses

27 03 2009
tejajuan

hallo bos..jumpa lagi mau naya nya lagi moga ngak bosan,..mas dulu pertama kali ternak etawa kira kira modal berapa,?kalau yang betina seperti oshin kira kira harga berapa mas?terus apakah sudah pemerasan susu kambing nya berproduksi?terima kasih sekali,semoga sehat selalu,salam etawa.

1 04 2009
Arief Rachman W.

Mas, modal beternak kambing PE itu relatif. memang cenderung lebih besar modalnya dari kambing jenis kacang:) Saya memuali beternak dengan modal sekitar 7,5jutaan mas. Modal segitu hanya dapat 2 kambing.
Kambing PE warna kepala coklat lebih rendah harganya dari yang hitam mas, indukan bunting sekitar 3-4 jutaan kepala merah. Setau saya, sangat susah menghargai kambing PE karena saat ini harganya tidak ada standarnya, sangat tergantung kualitas kambingnya. Lebih baik mas pahami betul terlebih dulu ciri kambing PE bagus, setelah itu hunting lah, sesuaikan buget aja mas. Untuk bisa memperoleh kambing bagus dengan harga miring, salah satu caranya adalah merintis pelan2 dari kambing PE kualitas sedang kemudian dikembangkan, hasil penjualannya dibelikan kambing yang lebih bagus:).
Setau saya susu kambing setelah diperas terus bisa berproduksi sebelum masa kering, selama kambingnya sehat:). Salam Kandang Bambu🙂

16 04 2009
Imro

Salam kenal mas,
Peternak yang memelihara kambing etawa sebagai kambing kontes cenderung lebih perhatian terhadap kambingnya. Mereka akan merawat kambingnya lebih bersih. Demikian juga kebersihan kandang lebih terjaga. Saya setuju dengan keprihatinan mas Arif, terutama harga kambing yang terlalu tinggi. Sudah tidak rasional lagi.
Salam Mandiri Etawa Farm

20 04 2009
Arief Rachman W.

Halo mas asrukhil imro, salam kenal juga. Saya setuju dengan pendapat anda tentang peternak pemelihara kambing kontes. Sorotan dan keperihatinan saya adalah pada lebihnya pemanfaatan kambing PE kearah kontes (hobi) dari pada memanfaatkan fungsi alamiahnya seagai kambing perah dan pedaging. Kalau kita ingin menjadi negara penghasil produksi ternak kambing dunia, maka harus fokus pada fungsi utama dari kambing ternak tersebut:). Salam Kandang Bambu:)

22 04 2009
dopo

Mas Airif,

Komentar sampeyan sama aja mengarahkan kambing PE sebagai kambing yang memiliki keunikan fisik dibandingkan lainnya. Konsekuensinya, orang akan melihat bentuk fisiknya dibandingkan fungsinya sebagai penghasil daging atau susu. Jika para peternak ingin sukses sebagai peternak kambing PE, justru jebakan ciri fisik jangan terlalu diekspos besar2an karena ketika orang beli susu atau daging kambing tidak mempertimbangkan bentuk fisik si kambing tapi harganya…

23 04 2009
Arief Rachman W.

Maturnuwun sarannya pak dhe, saya setuju dengan anda. Dalam memilih bibit atau indukan kambing PE penghasil susu tetap harus memperhatikan faktor fisik serta faktor keturunannya. Biasanya keturunan indukan bagus (hasil susunya), anaknya juga tidak jauh beda. Contoh sederhana adalah bentuk ambing dan jumlah ambing yang sebaiknya 2 buah simetris. Setau saya kondisi fisik kambing berpengaruh terhadap potensi susu (kuantitas da kualitas) yang dihasilkan. Salam Kandang Bamb:)
Nb: sido nyubo ternak PE pak dhe?

22 04 2009
amir

saya setuju dengan pendapan njenengan, saat ini harga etawa sudah gila gilaan, tahun 2004 aya beli di kaligesing kpala hitam masih 3jt an tapi sekarang sudah diatas 8jt, ayo mas kita bersama sama mengembalikan fungsi dan harga kambing etawa sebagaimana mestinya / wajar, kasihan peternak kecil seperti kita ini. Kami punya keinginan untuk pindah tempat tinggal ke daerah malang untuk bertani dan beternak sekalian memboyong ternak kami yang ada dimadiun ke malang, apa di daerah dau ada tempat yang cocok untuk beternak dan bertani mas? kalo harga tanah di daerah dau kisaran per meter berapa ya mas? trims
salam
lembah manah etawa farm

23 04 2009
Arief Rachman W.

Di daerah dau ke arah barat masih cukup banyak lahan yang bisa digunaan untuk beternak mas, yang jelas harus disurvey dulu. Salam Kandang Bambu:)

27 04 2009
Arief Rachman W.

Kalau menurunan harga PE sepertinya harus melibatkan pemerintah (dinas Peternakan), Masalahnya peternak tidak bisa intervensi pasar mas:). Kalau mau coba pindah ke malang bisa aja mas,yang jelas disurvey dulu. Salam Kandang bambu:)

20 05 2009
kusairi

mas arief.. itulah namanya kemajuan didalam pemahaman kwalitas ternak terutama kambing etawa oleh masyarakat kita. lihat contoh dulu munculnya sapi limusin yg juga mahal, justru skrg sapi lokal sdh sangat jarang, artinya masyarakat kita berternak selain sebagai usaha bisnis, juga sebagai kegemaran atau hobby masyarakat. dan kita mau tak mau harus mengikuti perkembangan bila tidakmau ketinggalan….

20 05 2009
kusairi

mas arief.. dengan adanya kontes justru akan menambah bergairahnya peternak kambing jenis apapun tidak hanya etawa saja, logikanya dulu kambing qur’ban uang 1jt sdh dapat besar sekali, skrg hrs mengeluarkan 1.5 jt tuk dpt yg besar. Artinya kesejahteraan peternak meningkat dengan adanya perubahan harga pasar yang dipengaruhi dengan adanya kontes-kontes kambing dan sapi.

23 05 2009
Arief Rachman W.

Leres pak:). Dari awal tujuan diadakannya kontes kambing PE salah satu tujuannya adalah menggairahkan peternak dan meningkatkan harga jual kambing. Sebagai mana yang saya baca dalam Dairy Goat Jurnal,nenek moyang kambing PE yaitu kambing ETAWA (Jamnapari) di india sana juga di konteskan.
Saya setuju dengan adanya kontes pak, tapi yang saya kritisi disini adalah “meroketnya harga” sehingga menjadi tidak realistis lagi bagi peternak. Mengapa tidak realistis? Terlampau tinggi investasi awal (initial investment) yang harus dikeluarkan peternak untuk memulai atau menambah jumlah ternaknya. Sehingga rasio balik modalnya terlalu lama. Peternak kecil seperti saya dengan modal pas-pasan, dan mencoba fokus kearah produksi susu “ndak kuat” kalau harus beli indukan seharga itu, apalagi membeli indukan kualitas kontes dengan harga puluhan juta rupiah per ekor??….
Kalau kita ikuti harga pasar yang naik terus kasian peternak kecilnya, karena akan ada kesenjangan yang cukup jauh antara harga hasil anakan kualitas kandang dengan kualitas kontes…… bukan begitu pak?
Mungkin itu maksud saya, kita bisa diskusi lagi selanjutnya. Salam Kandang Bambu:)

14 06 2009
haryana

Usul om, kalao harga PE bardasar beratnya aja gimana. misal untuk indukan 50rb/kg hidup, maka bila berat pejantan 100 kg ya harganya 5 juta aja. itu lebih realistis. untuk harga daging sesuai pasar sekitar 25rb/kg jadi dg berat sama harganya 2,5juta aja

16 06 2009
Arief Rachman W.

Salam kenal mas haryana. Usul anda bagus juga sebagai dasar standarisasi harga. Mungkin bisa didiskusikan lagi, karena ada beberapa hal teknis di lapangan yang menyulitkan kalau harga sepenuhnya diberikan pada mekanisme pasar. Harus ada peternak (lebih baik peternak besar) yang mau memulai menjual hasil ternaknya dengan skema harga seperti yang anda usulkan. Salam Kandang Bambu:)

3 08 2009
aris

salam kenal mas arief. apa yang sampeyan kritisi itu sangat tepat. tidak hanya memerlukan modal besar untuk beternak, tetapi tetangga saya yang peternak pas-pasan, ketika menjual PE-nya, kepepet butuh uang, terpaksa harus merugi 2 juta. apakah ini tidak menjerumuskan orang “kecil”?

3 08 2009
Arief Rachman W.

Halo mas aris, selamat datang di kandang bambu. Terimakasih telah mengunjungi kandang bambu weblog, yang saya tulis itu semata2 adalah kritikan dari kenyataan yang saya lihat dilapangan. Mungkin rekan-rekan yang lain memiliki sisi pandang juga, mari kita diskusikan bareng-bareng dengan tujuan meningkatkan kwalitas dan kwantitas peternak kita khususnya peternak kambing PE. Salam Kandang Bambu:)

4 08 2009
aris

mas arief, ada beberapa persoalan di benak saya mengenai fenomena PE. !. apakan organisasi penggemar PE tidak dapat mengendalikan harga? (standarisasi bisa mengikuti model lobster, harga/cm untuk telinga, gimbal, derajad kenonongan, dsb) untuk meminimalisir ketertipuan pembeli pemula. 2. pemasaran yang tidak terkendali apakah tidak mungkin nasibnya seperti perkutut? (PE super bukan lagi ras Kaligesing, tetapi PE Bangkok). 3. dengan harga beli yang tidak realistis, apabila sudah banyak dikembangkan apakah mampu mempertahankan harga? karena harus diakui bahwa jumlah hobiis tidak sebanyak konsumen daging dan susu yang sekali pakai. seandainya terjadi bagaimana nasib hobiis dari tingkat menengah ke bawah? kalo kita memikirkan kehidupan masyarakat dalam rangka mengembalikan fungsi PE, persoalan ini harus segera dirumuskan.

4 08 2009
Arief Rachman W.

Jumpa lagi mas aris. Kekawatiran anda benar adanya dan persoalan2 yang anda pikirkan sangat mungkin terjadi. Menurut saya orgaisasi atau asosiasi peternak PE bisa mengendalikan hal itu. Pembentukan asosiasi peternak PE dalam lingkup besar (tingkat provinsi atau nasional) memiliki peran besar, dan itu yang sedang kami usahakan beserta kawan-kawan peternak lain dari luar malang dan jawa tengah. Harapa saya, terbentuknya asosiasi peternak (nasional) tsb mampu berbuat banyak mengatasi persoalan2 yang ada dilapangan termasuk beberapa hal yang anda persoalkan. Kami mohon dukungan dan supportnya semoga Asosiasi peternak kambing PE tingkat Nasioal tsb bisa segera terbentuk. Salam Kandang Bambu:)

22 08 2009
M. Rizal

Salut Mas
Two Thumbs….
Semoga ilmu anda menjadi amal jariyah

23 08 2009
Arief Rachman W.

Terimakasih atas supportnya mas Rizal, salam kandang bambu:)

23 09 2009
handoyo

saya setuju dgn artikelnya mas……harga kambing yg sangat mahal bwat peternak kambing sulit untuk membeli……contoh nya ya saya ini…..dri dlu pengen bangt punya kambing ettewa g pernah keturutan gara2 harganya yg sangat mahal

23 09 2009
handoyo

salut aku sama smpean mas…..hebat….

24 09 2009
Arief Rachman W.

Salam kenal mas handoyo, terimaksih atas suportnya. Salam kandang bambu:)

4 06 2010
imran

saya sependapat dgn mas arief tentang fenomena meroketnya harga PE. di satu sisi kita ingin kambing PE maju di sisi lain Harganya menjadi tdk terjangkau oleh peternak rakyat. sehingga peternak banyak yg beralih ke kambing lain. mungkin perlu mencontoh fenomena kontes di sumatera barat yg biarpun kontes ada harga tetap rasional.

4 06 2010
Arief Rachman W.

Salam kenal dan salam jumpa pak imran, terimakasih telah mengunjungi kandang bambu weblog. Saya doakan sukses dan berkembang buat peternakan kambing umban sari, salam buat kawan peternak SUMBAR. salam kandang bambu:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: