UPAYA PENINGKATAN EFISIENSI PETERNAKAN KAMBING PERAH, MELALUI IMPROVISASI GENETIKA (PEMULIAAN TERNAK)

3 08 2011

Oleh: Arief Rachman W, Kandang Bambu Management, 2011

Beberapa waktu yang lalu, saya berjumpa dengan seorang pengusaha alat peternakan dari Ontario Canada. Ketertarikan saya bermula pada sebuah alat proses pakan ternak milik dia, yang berfungsi ganda, yaitu memotong (cacah) sekaligus pengaduk (mixer). Perkenalan dan obrolan seputar alat tersebut berlangsung beberapa saat, hingga pembahasan melebar pada jenis ternak. Bule Canada tersebut bercerita tentang jenis ternak kambing perah yang banyak dikembangkan disana, sebagian besar adalah jenis Saanen. Mereka memilih mengembangkan jenis Saanen karena merupakan kambing perah murni dengan produksi susu cukup tinggi.

Berkait tentang jenis ternak, saya berargumen pada si Bule tersebut bahwa mengapa dari sebagian kawan peternak yang saya kenal mengatakan Saanen sulit dibudidayakan di daerah tropis (panas). Banyak kendala seperti birahi yang terganggu hingga produksi susu yang tidak sebaik di Negara asalnya. Si Bule Canada tersebut mengatakan bahwa seharusnya tidak demikian, banyak kawan dia yang sukses mengembangkan jenis kambing Saanen di Negara dengan iklim tropis. Kunci suksesnya utama kata dia adalah factor genetika ternak dan kualitas asupan nutrisi pakan yang diberikan.

Singkat cerita perjumpaan saya berakhir pada kesimpulan diskusi tersebut, saya terus mengingat-ingat dua factor sukses untuk mengembangkan bisnis ternak kambing perah, genetika dan kualitas pakan. Kualitas ransum pakan sudah pernah saya tulis sebelumnya, pada kesempatan ini saya akan coba berbagi mengenai efektifitas beternak kambing perah melalui improvisasi genetika. Improvisasi genetika atau dikenal juga sebagai pemuliaan ternak bagi saya harus segera dilakukan oleh peternak kambing perah. Kebutuhan tersebut terjadi karena saat ini rata-rata peternak belum memiliki ternak kambing perah dengan kualitas unggul.

Sebagian besar dari kawan peternak masih menggunakan jenis peranakan etawa (PE) dan Jawa Randu untuk diproduksi
(diperah). Tidak ada yang salah sebenarnya dengan penggunaan jenis kambing tersebut, karena memang hanya itu yang tersedia saat ini. Namun demikian, kedua jenis ternak tersebut menurut pengalaman saya tidak cukup efisien dikembangkan sebagai ternak kambing perah. Mengapa demikian? Banyak kelemahan dari kedua jenis kambing tersebut, jenis kambing PE adalah jenis dwi guna (susu & daging) dengan produksi susu rata-rata perhari 774 ml (Suranindya dkk, 2009). Selain produksi susunya rendah (<1 ltr/hari) harga beli kambing PE cukup mahal, karena memiliki kelompok penghobi. Jenis Jawa Randu harganya lumayan terjangkau, berkisar 900 ribu hingga 1,3 juta/ ekor. Namun demikian Jawa Randu juga bukan tipikal kambing perah sehingga produksinya juga hanya pada kisaran 1 liter rata-rata/ ekor/ hari.

Rendahnya produktivitas perah harian dari jenis PE dan Jawa Randu menyebabkan rata-rata harga jual susu kambing per liter menjadi cukup mahal, selain itu biaya operasional pemeliharaan juga cukup besar. Hasil survey saya di peternak kambing perah kota Tegal-Jawa Tengah baru-baru ini (29-30 Juli 2011), rata-rata peternak disana menghasilkan 30-40 liter susu kambing per hari dari sekitar 50 ekor indukan laktasi. Bisa dibayangkan cukup besar upaya dan biaya untuk menghasilkan 30-40 liter susu kambing per hari, dan hal ini yang menurut saya sangat tidak efisien. Harus ada upaya peningkatan produktifitas ternak perah untuk menunjang efisiensi bisnis peternakan kambing perah, improvisasi genetic (pemuliaan ternak) menurut saya adalah jalan terbaik.

Hasil dari improvisasi genetik akan sangat menguntungkan peternak, karena akan dihasilkan kualitas ternak yang unggul. Tujuan dari improvisasi genetika tersebut adalah sebagai berikut (Suyatno, 2006):

-          Meningkatkan produksi

-          Memperbaiki kualitas produk

-          Memperbaiki reproduksi

-          Menambah nilai ekonomis ternak

-          Memperbaiki efisiensi dan konversi pakan

-          Meningkatkan pendapatan

Bisa kita bayangkan apabila kita memiliki jenis ternak kambing perah dengan kualitas lebih baik dari Kambing PE dan Jawa Randu, kita (peternak) akan sangat dimudahkan dan diuntungkan pada tataran aplikasi sektor hulu. Volume produksi (susu) tinggi dengan jumlah populasi yang tidak banyak bisa kita nikmati, otomatis hal ini akan jauh meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan kambing perah. Ujung-ujungnya adalah peningkatan pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis kambing perah sektor hulu (peternak).

Namun jangan terlalu gembira dulu, dibutuhkan kerja keras dan waktu yang tidak pendek untuk bisa berhasil dalam upaya improvisasi genetik. Kita bisa berkaca pada Negara Prancis yang dikenal sebagai negara unggul dalam upaya program improvisasi genetiknya. Mereka memulai program improvisasi genetic untuk ternak kambing perah sejak tahun 1960an berbasis pada pencatatan produksi susu, artificial Insemination (kawin suntik) dan pengujian keturunan. Hasil dari program tersebut, pada tahun 2000 prancis telah memiliki kurang lebih 150.000 populasi ternak kambing perah unggulan. Tiap tahun dilakukan kurang lebih 250 rencana perkawinan untuk menghasilkan 150 jantan unggul muda, yang mana nantinya 150 jantan muda tersebut diseleksi lagi hingga menghasilkan hanya sekitar 70 ekor yang lolos uji kesehatan fisik dan tes kesuburan semennya (Stubb & Abud, 2000). Model program improvisasi genetic adalah sebagai berikut:

Gambar: Selection Program for Genetic Improvement of Dairy Goat

Tidak mengherankan jika Negara seperti Prancis, Belanda, New Zeland, Canada dan Australia merupakan Negara penghasil ternak perah khususnya kambing perah unggul di dunia. Mereka memperoleh semua itu tidak dengan jalan instan, melainkan melalui program dan perencanaan sejak lama. Pertanyaanya adalah apa bisa kita bersaing dengan mereka, dalam hal kualitas ternak dan produksi susu? Marilah kita jawab bersama melalui upaya nyata meningkatkan kualitas ternak kambing perah kita melalui improvisasi genetika.

Contoh nyata langkah kecil improvisasi genetika kambing perah adalah munculnya jenis Saanen Cross yang saya temui di sebuah farm perah Kabupaten Cilacap. Peternak tersebut melakukan kawin silang antara jantan saanen full blood dengan betina PE atau Jawa Randu. Hasil peranakan pertamanya (F1), saat laktasi 1 mampu menghasilkan produksi susu rata-rata 1,5 L/ekor/hari. Bukan hanya prduksi rata-rata harian yang lebih baik, namun masa laktasinya cukup panjang dan stabil. Keunggulan lain yang timbul adalah jenis cross ini juga lebih bandel alias daya tahan bagus terhadap sakit (salah satunya mastitis), bukankah hal ini sangat menarik untuk diteliti dan dibuktikan?

Gambar: Saanen Cross F1, Laktasi 1

Sudah saatnya kita peternak kambing perah melakukan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan, salah satunya dengan memunculkan breed baru yang lebih unggul dari pendahulunya. Dengan contoh Saanen Cross diatas, peternak bisa menghasilkan 30 liter susu kambing per hari dengan 15 indukan laktasi 1, bandingkan dengan survey saya di Tegal, dimana untuk menghasilkan 30-40 liter susu kambing per hari diperlukan 50 induk laktasi. Jika kita efisien dalam jumlah (populasi) ternak, otomatis kita akan efisien dalam konsumsi pakan, tenaga kerja, lahan dan operasional kandang lainnya. Efisiensi tersebut berujung pada menungkatnya level kompetitif kita terhadap pesaing, menarik sekali bukan?

Demikian tulisan saya kali ini, jika ada hal yang kurang berkenan dan tidak tepat mohon dimaafkan, karena penulis hanyalah penghobi ternak kambing perah dengan segala keterbatasannya. Jika dirasa bermanfaat silahkan tulisan ini disebar luaskan, sebaliknya silahkan juga di koreksi dan di kritik jika terdapat hal yang kurang tepat. Salam Kandang Bambu:)

Referensi tulisan:

-          Arthur Stubbs & Gaille Abud, “Improving productivity and Speciality cheese Production in the Australian Dairy Goat Industri – Phase2”, International Goat Conference, May 2000.

-          Suyatno, M.Si. Pendahuluan Mata Kuliah Dasar Ilmu Pemuliyaan Ternak, Program Ilmu Peternakan, UNMUH Malang, September 2006.

-          Y.Suranindyah, T.S.M. Widi, Sumadi, N.H. Tarmawati and U. Dwisepta, “Production Performance of Etawah Cross Goat in Turi – Sleman, Yogyakarta”.  Faculty of Animal Science,IPB. The First International Seminar on Animal Industri, 2009.

Referensi Gambar:

-          Arthur Stubbs & Gaille Abud, “Improving productivity and Speciality cheese Production in the Australian Dairy Goat Industri – Phase2”, International Goat Conference, May 2000. Page 79.

-         Dokumen Pribadi

-         http://www.facebook.com/photo.php?fbid=116051401786132&set=a.111772285547377.13783.100001438174481&type=1&theater

About these ads

Aksi

Information

5 responses

12 08 2011
kusnanto h

Menarik sekali mas arif tulisan anda. Untuk informasi alamat peternakan Saanen Cross di Cilacap bisa minta bantu di share mas Arif? Dan apakah mereka juga melakukan perniagaan Saanen Cross ini mas? Mhn informasinya… Matur nuwun

14 11 2011
Han Rojokoyo Farm

Salam Kenal Pak Arif,

Betul memang, improvisasi genetik memang perlu, namun perlu juga diawasi dengan sangat ketat, jangan sampai kejadian rusaknya genetika sapi lokal terjadi juga pada kambing-kambing lokal. Bahasa pemuliaan genetik akan lebih pas, karena genetik akan dikembalikan ke awalmulanya.
Sedangkan untuk pemuliaan genetik memang diperlukan waktu yang tidak sebentar, sebab genetika yang ada di lapangan sudah tercampur sedemikian banyaknya jenis. Diperlukan sebuah kesabaran yang ekstra, kita selaku pelaku peternakan jangan sampai merusak genetik hanya untuk kepentingan sesaat saja, ingat anak cucu kita masish memerlukan kambing-kambing tersebut. Kejadian turunnya produktifitas pada sapi-sapi lokal di Nusantara ini saya harap jadi satu pelajaran bahwa tidak mudah mengawasi perkawinan campuran antar jenis. semoga bisa jadi pertimbangan.

Hidup Peternakan Indonesia !

16 12 2011
Rizki

semoga peternakan indonesia semakin baik untuk masa yang akan datang…….

16 12 2011
prajitno

salam kenal mas arif,,makasih atas artikelnya,,mohon info alamat peternakan kambing saanen cross yg di cilacap,,saya mau coba belajar ttg ternak kambing,,mks

10 01 2012
ari wibowo

klo kambing sanen croos f1yang bagus harganya berapa pak???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: